whose side are you on

whose side are you on

Sunday, May 8, 2016

BOOKS OF MATH == MOTHER OF ALL SCIENCES, FATHER OF ALL LOGIC ==


Begitu sampai di rumanh, pulang liburan dari libur panjang minggu ini, gua nyalain handphone, yg emang gua sengaja mati'in selama liburan, langsung WA dan BB gua pang, ping, pang, puttt... ribut banget mirip pentungan ronda.
Gua nyalain laptop gua, gua login ke channel, sami mawon masgokkk. Duhhh Rabbi.... Work-group Channel sudah kayak pasar, dipenuhi links/URL kiriman Vampires/Kunties, mengenai berita-berita yg sepertinya layak baca, atau dikomentari. Ada beberapa link/URL yg diwarnai merah. Artinya, minta perhatian gua, minta dikomentari. Kalau diwarnai biru, atau hijau, artinya cukup buat bahan baca, atau ketawa-ketiwi, kalau tdk berwarna, yaaa cukup buat nambah wawasan ajah...
Biasanya yg kirim link tanpa warna itu para tetua, bukan apa-apa, tapi karena gaptek ajah, susah ngewarnain link/url kalo kirim link di Channel... hehehe..
Tapi gimana ceritanya yak, kalau link yg dikirimin ke akun channel loe warnanya merrraaahhhh semuwa... Nah lho, bingung kan loe masgookk???? Mosok mesti dikomentari semuwa??? Mana ada waktu kuuhh....??
Begitu lah keadaan gua kemaren, sepulang liburan keluarga.

Namun salah satu link yg menarik perhatian gua, dan membuat gua pengen mengomentari, adalah link dari Chirp-Story yg dikirimin seorang Vampire. Kumpulan twit dari @PartaiSocmed, yg mengomentari dan menghina Kultwit dari uni @fahiraidris, mengenai pembunuhan dan pembunuhan Yuyun yg sangat tdk berperi kemanusiaan. yang disebabkan beberapa orang yg lagi mabok.
Kejadian terhadap Yuyun ini lebih menjadikan uni @fahiraidris, sebagai pegiat "anti Miras", lebih bersemangat lagi meneriakkan pembatasan/pelarangan Miras di Indonesia.
Nah menurut si @PartaiSocmed ini, logika uni @fahiraidris itu salah, sebab Miras tak ada hubungannya dengan kejadian perkosaan/pembunuhan Yuyun itu. Itu logika yg salah, katanya. Dan dengan pongahnya dia meminta orang-orang yg mengomentari kultwitnya untuk membuat logic yg benar, untuk membuktikan pernyataan uni @fahiraidris itu benar. Bahwa miras ada hubungannya dengan kejadian Yuyun tersebut.

Membaca komentar si @PartaiSocmed itu, sontak gua terbahak-bahak sampek guling-guling...Kwekwekwkekwek...
Entah belajar dari mana tuh orang, sok-sok'an ngomongin teori logika.
Makanya ya cuyyy.... Hati-hati kalau berbicara sesuatu di media sosial. Apalagi mengenai sesuatu yg kita tak punya keakhlian di dalamnya. Langsung ketahuan kalau kita cuma cuap-cuap asbun bin tipu bin sotoy. Karena di media sosial itu, banyaaakkkk para ahkli yg ikutan nimbrung baca. Jadi bisa langsung ketahuan kedunguan kita... kwekwkekwkwkekkk...

Mari kita mulai bahas ya cuy... kita mulai dari sini:
Ini gua ambil dari cuplikan twit komentar si @PartaiSocmed,



Ini sama sekali bukan contoh Sillogisme. Jangan-jangan apa arti sillogisme itu saja, si @PartaiSocmed itu nggak ngerti.
Kalau dia ngerti sillogisme, dia pasti akan tau membangun "logic structure" untuk mencapai sesuatu kesimpulan melalui sillogisme. Mari kita bedah dimana kesalahan dan tipu-tipu "sok akhli logika" si @PartaiSocmed ini.

Gua mau tanya, dalam struktur logika yg dibangun si sotoy dalam silogismenya itu:
1. Dimana Premis Utamanya? Tak jelaaassss.....
2. Dimana Premis Pendukungnya? Juga tak jelaasssss.... Semua premisnya asal buat....
3. Yg mana subject penghubungnya? Tak jelasssss..... Sama sekali tak kelihatan subjek penghubungnya...

ITU BUKAN SILLOGISME!!!
Coba deh loe tanya, sama Professor atau Doktor akhli Filsafat, yg ngolotok ilmu logikanya. Apa contoh sillogisme di atas yg diberikan si sotoy satu itu, adalah contoh sillogisme yg benar. Coba deh tanyain... Kwekwkekwkek... Dasssaarrr Tipuuu....

Sudahlah sotoy, terussss dia nantangin begini: Suruh buat struktur logika yg bisa mendukung pernyataan uni Fahira.



Gampaaanngg cooyy... Baik, gua jabani tantangan si sotoy itu ya cuy... gua jawab pake sillogisme yg benar...

1. Premis Utama: Banyak orang yg minum Miras adalah Pemabok
2. Premis Pendukung: Ada Pemabok, kalau gak mau dikatakan banyak Pemabok menjadi Pemerkosa
3. Kesimpulan: Banyak orang yg minum Miras adalah Pemerkosa

Itu baru sillogisme.
Situasi/Keadaan yang sedang privalen/terjadi, harus ada dalam Premis Utama.
Dalam contoh sillogisme ini, subjek penghubung adalah "Miras". Miras yg menghubungkan Pemabok jadi Pemerkosa.
Dalam struktur logika sillogisme, subjek penghubung, harus berada dan terdistibusi minimal 1 kali, dalam premis yg kita bangun. Sebab jika tidak, artinya logika yg kita bangun sama sekali gaakkk nyaammmbuunnggg cuuyyy... Gitu kira-kira komentar anak sekarang. Jaka sembung bawa golok... Gak nyambuuuunnggg goookkkk... Kekekekeke....

Coba bandingin sama sillogisme abal-abal si sotoy PartaiSocmed a.k.a Ananta Rajasa di atas.
Tak satupun persaratan sillogisme ada dalam logic structure si Ananta Rajasa di atas. Mana bisa sillogisme premisnya membandingkan hal yg sama, penghubungnya sama, dan tak pernah terdistribusi diantara premis yg dibangun.
Kwakwkakwkakwkakkk.... Ketawa guling-guling....

Gua adalah seorang yg berlatar belakang Teknik. Yang saanngaatt senang Matematika. Dan selalu berfikir secara matematika.
Logika Matematika, adalah logika yang dibangun berdasarkan science/ilmu pengetahuan. Agak sedikit berbeda dari ilmu logika yg dipelajari dalam Ilmu Filsafat.
Ilmu logika Phsyco Analyst, adalah ilmu yg coba menggabungkan dasar-dasar logika Filsafat dengan Matematika.
Makanya banyak Profilers yg bekerja di FBI atau di manapun yg perlu Profilers, punya latar belakang Phsyco Analyst atau Matematikawan. Bukan akhli Filsafat.

Mengapa? Karena Filsafat itu "agak-agak rumit" logikanya. Seharusnya dalam membangun struktur logika, premis yg dibuat harus bebas nilai. Tidak boleh dipengaruhi apapun. Namun pada kenyataannya, sering kali opini, niat, tujuan, latar belakang seseorang, membangun premis berdasarkan keinginanya akan suatu kesimpulan yg diharapkan. Dan banyak akhli Phsyco Analyst yg mengakui sendiri hal itu. Hal itu yg disebut "rasionalisasi". Kalau opini sudah mempengaruhi kita dalam menyimpulkan sesuatu, pastiiiii struktur logika yg kita bangun salaahh bessaarr...
Nah ini contohnya:



Mana ada premis yg sesat? Itu sudah opini. Ketahuan banget kan sotoynya cuyyy????
Seharusnya, sebuah premis itu bebas nilai awalnya. Baru nanti setelah premis-premis pendukungnya membuktikan lain. Dan kesimpulannya lain. Barulah kita bisa menyimpulan premis itu salah atau benar.

Para Filsuf yg sudah diakui dunia kehebatannya pun, selalu berkata, premis itu harus bebas nilai. Dan banyak diantara mereka yg menganjurkan, seharusnya sebelum membuat Premis, ada satu tingkatan di bawahnya yg harus dilakukan, yaitu Hipotesis. Hipotesis itu adalah proses membangun pernyataan, reasoning, argumen yg bebas nilai.
Makanya dalam Matematika, konsep Hipotesis itu lebih sering dipakai daripada konsep Premis yg lebih sering tidak bebas nilai.

Dalam Matematika, Loe mau buat hipotesis seperti apapun, segila apapun, sebejat apapun, tidak pernah akan dikatakan hipotesis sesat, seperti yang dikatakan si Ananta Rajasa di atas, yg sudah membawa opininya dalam membangun logika. Sebab hipotesa yg loe buat dalam Matematika, harus bebas nilai.
Nanti kemudian dalam proses selanjutnya akan dibuktikan, apakah hipotesa-hipotesa yg loe buat benar atau salah.
Dari kumpulan banyak hipotesa, menjadi Teorema, dari banyak teorema membentuk sebuah Teori, dan pada akhirnya menghasilkan Postulate, Hukum, atau Dalil.
Bila satu saja hipotesa yg loe buat ternyata salah, akan ketahuan pada teorema yg loe bangun. Pasti akan terjadi paradox atau kebuntuan.
Tapi tetap, hipotesa itu harus bebas nilai. Tak perduli sesalah apapun itu, sebejat apapun itu, atau segila apapun itu.
Banyak teori-teori yg ada sekarang, dimulai dari hipotesa yg awalnya kedengaran sangat muskil dan gila. Tapi kemudian ternyata benar. Jadi jangan berasumsi dan beropini diawal....

Salah satu contoh perbedaan membangun logika dalam Filsafat dan Matematika:

1. Premis pertama: Semua Ikan bisa berenang
2. Premis kedua: Semua Bebek bisa berenang
3. Kesimpulan: Ikan adalah Bebek.

Secara struktur, logika di atas adalah benar. Jika ada seseorang yg belum pernah melihat Ikan dan Bebek, dan tidak tahu cara Ikan/Bebek berenang. Pasti bisa menerima logika itu.

Namun dalam Matematika, dari awal pun sudah akan ketahuan bahwa Ikan dan Bebek itu adalah dua hal yang berbeda. Sebab dalam Matematika, semua hal HARUS dinyatakan dalam FUNGSI/FUNCTION. Semua faktor pendukung "sesuatu" tersebut harus disertakan dalam fungsi hipotesisnya.
Jadi dari awalpun sudah ketahuan F(x) = Ikan, serta G(y) = Bebek, sudah berbeda, meski ada beberapa faktor pendukung dalam F(x) dan G(y) yang sama. Namun hipotesis dasarnya sudah terang bahwa kedua fungsi tersebut tidak sama.

Ini contoh lain, betapa Premis itu sering kali dipengaruhi oleh opini dan latar belakang si pembuat logika:
Hipotesis/Premis: Tuhan itu ternyata punya anak.

Secara hipotesis Matematika, bebas nilai, bolehkah pernyataan itu? BOLEEHHHH BANGEEDDD CUUYYY...!!! Monggo bingid oommm...
Secara premis Filsafat, orang Kristen dan hampir semua agama lain bilang: Boleh dan sangat benar.
Secara premis Filsafat, orang Islam akan bilang: Itu tidak mungkin, dan kafir hukumnya menyekutukan Tuhan.
Premis itu sudah tak bebas nilai lagi. Sudah dipengaruhi latar belakang agama.

Meskipun dalam Matematika, hipotesis Tuhan bisa punya anak, dapat diterima dan tidak boleh disalahkan, namun jika hipotesa tersebut dibawa kedalam Teori Ilmu Advanced Calculus (Kalkulus Lanjutan), akan segera terbukti hipotesa tersebut salah.
Ini satu contoh lagi. Hipotesis/Premis mengenai Omnipotence Paradox: Bisakah Tuhan menciptakan batu yg tak bisa diangkatNYA.
Dari sisi Filsafat, premis itu sudah membingungkan buwanyak filsuf dari dulu. Logika ilmu Filsafat menghadapi kesulitan menjawab pertanyaan itu. Namun dari sisi logika Matematis, akan sangat mudah menjawab hipotesis itu. Begitu dibawa ke dalam ilmu Limit Calculus, akan segera kelihatan hipotesis itu salah, karena mengandung paradox dalam fungsinya. Gua lagi malas menjelaskan ya cuy. Belajar aja ilmu Limit Kalkulus, biar pinter matematikanya.
Jadi gak ribet kan cuy menjaga logika?

Mari kita bawa logika uni Fahira Idris ke dalam Ilmu Matematika. Kamu yg belajar Matematika, pasti belajar dong, ilmu paling dasar Matematika mengenai himpunan? Himpunan bilangan, Himpunan semesta, Himpunan berhimpitan, Himpunan beririsan, dan lain-lain. Logika paalliiinnggg dasar dari Matematika.
Coba liat gambar di bawah ini.



Kamu yang sudah terbiasa berpikir berdasarkan logika Matematika, pasti segera tahu hipotesa-2 adalah yg benar.
Himpunan semesta Pemabok Miras itu, BERIRISAN dengan himpunan semesta Pemerkosa. Karena pada kenyataannya lah, banyak pemabok melakukan pemerkosaan. Satu di antaranya adalah kejadian sangat tragis dan biadab pada Yuyun tersebut.
Hipotesa-1, sulit kali memberikan reasoning dan argumennya ya masgok. Himpunan semesta para pemerkosa berhimpitan dgn para pemabok Miras, artinya semua pemabok miras adalah pemerkosa. Sulit berargumen kali ya masgok...
Namun kalau loe sok-sok tewuk berfilsafat, berlagak sebagai seorang filsuf sejati, seperti si Ananta Rajasa a.k.a @PartaiSocmed, pasti loe akan bilang, hipotesis-3 yg benar, tidak ada hubungannya Miras dengan Perkosaan. Biarin aja deh jualan Miras terus berlanjut di Indonesia... Biarin aja kejadian sangat biadab yg dilakukan para pemabok terhadap Yuyun itu teruuusss terjadi gok.....

Para pakar Ilmu Pengetahuan mengatakan, Matematika itu adalah Ibu segala Ilmu Pengetahuan. Karena sejak jaman purba, bahkan sebelum orang mengenal yang namanya sciences (Ilmu Pengetahuan), manusia purba sudah memulainya dengan ilmu berhitung. Boleh dibilang seluruh ilmu yang ada sekarang, pasti sedikit banyak mengandung Matematika di dalamnya.
Dan meskipun ilmu Filsafat mengklaim Filsafat lah asal muasal pembentukan logika, namun tetap saja sebelum orang mengenal Filsafat, manusia purba sudah mulai membangun logika dengan berhitung. Jadi bagi banyak pakar, tetap saja Matematika itu adalah Bapak dari logika. Walaupun benar, filsafat itu lah yg menghasilkan agama.

Karena itu lah banyak pakar dari berbagai ilmu pengetahuan, yang sudah terbiasa mengasah logika, pada akhirnya berakhir pada ilmu filsafat, karena logikanya sudah tidak mampu menjawab berbagai pertanyaan dalam kepalanya.
Dan yg gua lihat para pakar ilmu pengetahuan seperti inilah yang menemukan kedamaian dalam akhir hidupnya.
Mempelajari Logika Filsafat itu memang harus berhati-hati, karena kalau tidak bisa menjadi boomerang. Lihat saja tuh Harun Nasution dan Nurcholis Madjid, beserta bebek-bebek pengikutnya.
Dari mulai embrojol yg dipelajari Kitab Kuning moloowwwww....Kwekkwekwkwke... Tak pernah menyentuh ilmu pengetahuan.
Jadi akan sulit membalik proses tersebut, orang-orang yg memulai ilmu logikanya dari filsafat akan sulit selanjutnya belajar matematika atau ilmu pengetahuan lainnya.
Bayangin aja masgok, biasa berhadapan dengan Kitab Kuning, terus disuruh belajar Kalkulus Lanjutan, atau Fisika Quantum, bisa gempor kali otaknya ya masgok.... Kewkekwkwkewke....
Jadilah bebek-bebek JIL semacam Ulil dan Sahal, tulalit banget logikanya... Kwkwkwkwkwkw....

Gua juga sekarang, sedikit-sedikit sedang mulai belajar ilmu Filsafat.
Makanya agak mengerti mengenai logika filsafat. Gua berharap gua bisa menjadi seperti Para Pakar Ilmu Pengetahuan yang kembali kepadaNYA dalam keadaan jiwa yg tenang. Gua ingin dijemputNYA dalam keadaan jiwa yg tenang dan Khusnul Khatimah. Do'ain gua ya temansss... Amin Ya Rabbal Alamin...






No comments:

Post a Comment